Selasa, 23 Juni 2026

.


Ada satu hal yang baru aku sadari belakangan ini.

Kadang yang bikin komunikasi rusak bukan karena kurang suka. Bukan juga karena udah gak peduli.

Kadang rusaknya cuma karena satu orang terlalu sibuk jadi anak kecil.

Dan sayangnya, orang itu aku.

Aku pergi pas keadaan gak sesuai sama yang aku mau. Aku ngilang tanpa penjelasan. Aku ngeblok. Aku mutusin komunikasi seolah-olah masalah bakal selesai kalau aku pura-pura gak ada.

Lalu beberapa hari kemudian aku balik lagi.

Datang seakan gak terjadi apa-apa.

Minta dimengerti.

Minta diterima.

Minta semuanya kembali normal.

Padahal di sisi lain, ada seseorang yang harus duduk sendirian menghadapi semua kebingungan yang aku tinggalkan.

Ada seseorang yang nangis karena gak ngerti kenapa aku tiba-tiba menghilang.

Ada seseorang yang berkali-kali mempertanyakan dirinya sendiri hanya karena aku gak cukup dewasa buat menghadapi masalah dengan cara yang benar.

Dan semakin aku pikirin, semakin aku malu sama diri sendiri.

Karena ternyata selama ini aku selalu punya pilihan.

aku bisa ngomong.

aku bisa jujur.

aku bisa bilang kalau lagi marah, lagi capek, atau lagi butuh waktu.

Tapi aku memilih cara yang paling gampang buat diri sendiri dan paling menyakitkan buat orang lain.

Pergi.

Ngilang.

Nutup semua akses.

Kayak anak kecil yang lari dari masalah sambil berharap masalahnya ikut hilang.

Padahal enggak.

Masalahnya tetap ada.

Bedanya sekarang ditambah luka yang aku bikin sendiri.

Aku gak bisa ngubah apa yang udah terjadi.

Aku gak bisa ngapus air mata yang udah jatuh.

Aku juga gak bisa minta semua rasa sakit itu hilang cuma karena aku bilang "maaf".

Tapi kalau ada satu hal yang pengen aku sampaikan, itu adalah:

aku benar-benar nyesel.

Bukan nyesel karena kehilangan.

Bukan nyesel karena keadaan jadi gak enak.

Tapi nyesel karena pernah bikin seseorang yang aku peduliin merasa sendirian akibat sikap ku sendiri.

Dan kalau suatu hari nanti kamu masih mau kasih aku kesempatan, aku gak janji bakal langsung sempurna.

Tapi aku janji bakal belajar.

Belajar buat tetap tinggal ketika keadaan lagi sulit.

Belajar buat ngomong daripada menghilang.

Belajar buat jadi orang dewasa yang menghadapi masalah, bukan anak kecil yang lari darinya.

Kalau akhirnya kamu memilih buat gak maafin, aku paham.

Karena beberapa luka memang gak bisa sembuh cuma dengan permintaan maaf.

Tapi kalau masih ada sedikit ruang di hati kamu buat ngasih kesempatan kedua, aku cuma berharap satu hal:

Biar aku bisa nunjukkin kalau aku udah gak mau jadi orang yang sama lagi.

Share:

Senin, 22 Juni 2026

e1


Orang yang pengen gw lupain ngechat lagi.

Padahal baru dua hari.

Dua hari itu bahkan belum cukup buat lupa. Belum cukup buat sembuh. Belum cukup buat bikin nama dia terdengar biasa aja.

Jujur aja, dua hari itu lebih mirip jeda daripada perpisahan.

Masih ada kebiasaan yang belum hilang. Masih ada refleks buat ngecek notifikasi. Masih ada bagian dari otak yang diam-diam berharap dia muncul lagi, meskipun mulut bilang udah nggak peduli.

Terus dia beneran muncul.

Dan anehnya, bukan lega yang gw rasain.

Malah bingung.

Karena selama dua hari itu gw habis-habisan nyakinin diri sendiri kalau mungkin ini memang harus selesai. Bahwa nggak semua orang yang datang harus tinggal. Bahwa kadang melepaskan adalah pilihan paling masuk akal.

Lalu satu chat masuk.

Dan semua kalimat yang udah gw susun rapi di kepala tiba-tiba berantakan.

Gw sadar sesuatu.

Yang berat bukan kehilangan dia selama dua hari itu.

Yang berat adalah menerima kenyataan kalau ternyata gw masih peduli.

Masih peduli sama kabarnya.

Masih peduli sama apa yang dia pikirin.

Masih peduli sama kenapa dia balik lagi.

Dan mungkin itu yang paling nyebelin.

Karena kadang kita pengen jadi orang yang bisa bilang, "Ah, biasa aja."

Padahal dalam hati, satu notifikasi dari orang tertentu masih bisa bikin malam yang tenang berubah jadi ribut.

Mungkin dua hari memang terlalu singkat untuk disebut lupa.

Tapi cukup lama untuk bikin gw sadar bahwa yang selama ini gw lawan bukan dia.

Melainkan harapan-harapan kecil yang masih gw simpan diam-diam. Yang tiap kali gw kira udah mati, ternyata cuma lagi tidur.

Share:

Kamis, 18 Juni 2026

.

I'm tired of this endless cycle of obsession and heart wrenching pain. I hit a new low, obsessing over a woman who I've never even met in person. I finally sought therapy because the pain and sadness I was experiencing have become unbearable and it only got worse when she finally said that we were never going to happen. My stomach has constantly been in knots and my chest felt like I was being stabbed. Talking to her doesn't even bring me joy anymore, it feels broken. I can't tell if she's actually changed the way she talks to me or if I've changed the way I view the things she says but everything feels so hollow and soulless now. I can't believe I fantasized for months about just hopping a plane to where she is and meeting up with her to confess that I wanted to be with her and that I couldn't live without her. The worst part is that I still feel everything. I still get jealous and angry when she posts on social media while I'm waiting on her to reply, I still get possessive, I still wait for her messages like a dog at the door checking my phone over and over and over just waiting for the notification sound to play so I can see what she said. I cried the night she finally laid down a boundary, not just tears rolling down the cheeks, I'm talking ugly snot dripping down your face struggling to breathe type sobbing. I hope therapy helps otherwise the only option left to me is medical intervention.
Share:

Rabu, 17 Juni 2026

.

 Ada banyak kesalahan yang bisa diperbaiki dengan kata "maaf".

Tapi ada beberapa yang tetap tinggal di kepala, bahkan setelah maaf itu diterima.

Semalam, gw bikin lo nangis.

Dan jujur, dari semua hal yang terjadi, itu yang paling susah gw maafin dari diri gw sendiri.

Bukan karena air mata itu dramatis. Bukan karena gw takut kehilangan lo. Tapi karena untuk pertama kalinya, gw ngelihat secara langsung kalau perkataan dan tindakan gw bisa jadi alasan seseorang yang gw peduli merasa sesakit itu.

Yang terus terulang di kepala gw bukan pertengkarannya.

Tapi momen ketika gw sadar kalau orang yang biasanya gw cari untuk bikin hari gw lebih baik, justru harus nangis karena ulah gw.

Rasanya nggak enak.

Nggak enak banget.

Kadang kita terlalu sibuk membela diri sampai lupa kalau ada hati orang lain yang lagi terluka di depan kita. Terlalu fokus menjelaskan maksud kita, sampai nggak sadar kalau dampaknya jauh lebih besar dari yang kita kira.

Dan semalam gw belajar itu dengan cara yang paling menyakitkan.

Gw nggak bisa muter waktu.

Gw nggak bisa menghapus air mata yang sudah jatuh.

Gw juga nggak bisa minta lo langsung percaya kalau gw bakal berubah hanya karena gw bilang begitu.

Yang bisa gw lakuin cuma mengakui kalau gw salah.

Salah karena nggak cukup hati-hati.

Salah karena nggak cukup dewasa menghadapi keadaan.

Dan salah karena bikin seseorang yang nggak pantas disakiti harus menanggung rasa sedih yang datang dari gw.

Kalau ada satu hal yang pengen gw ulang terus sampai diri gw sendiri hafal, itu adalah janji ini:

Gw nggak mau ngulangin hal yang sama lagi.

Bukan karena gw takut lo pergi.

Tapi karena gw nggak mau jadi alasan di balik air mata orang yang begitu berarti buat gw.

Mungkin maaf nggak akan langsung memperbaiki semuanya.

Mungkin kepercayaan perlu waktu buat pulih.

Tapi mulai hari ini, gw pengen buktiin lewat sikap, bukan sekadar kata-kata.

Karena penyesalan terbesar gw bukan pertengkaran semalam.

Penyesalan terbesar gw adalah menyadari bahwa semalam, ada seorang perempuan yang menangis...

dan alasannya adalah gw.

Share:

.


 Ada orang-orang yang datang tanpa bikin keributan, tapi entah gimana berhasil menetap di kepala lebih lama dari yang seharusnya.

Gw belum yakin ini suka. Belum yakin ini cinta. Bahkan mungkin cuma kagum yang datang terlalu sering.

Karena kalau memang biasa aja, kenapa gw selalu punya alasan buat merhatiin lo?

Gw hafal hal-hal kecil yang bahkan mungkin nggak pernah lo sadari. Cara lo ketawa pas lupa jaga image. Cara lo ngebales chat dengan jeda yang bikin gw nunggu lebih lama dari yang seharusnya. Cara lo keliatan baik-baik aja, padahal kadang gw ngerasa ada sesuatu yang lagi lo simpan sendiri.

Dan yang paling bikin bingung, gw nggak pernah berniat kenal lo sedalam ini.

Awalnya gw cuma ngeliat lo.

Lalu tanpa sadar mulai merhatiin.

Lalu tanpa izin mulai peduli.

Mungkin gw belum yakin karena gw masih nyari bedanya antara kagum dan pengen memiliki. Karena mengagumi seseorang rasanya kayak berdiri dari kejauhan sambil bilang, "anjir, orang ini keren juga."

Sedangkan pengen memiliki seseorang berarti berharap suatu hari nanti lo ada di hidup gw, bukan cuma lewat lalu di pikiran.

Gw belum tahu gw ada di bagian yang mana.

Yang gw tahu, nama lo sering muncul di kepala pada jam-jam yang nggak masuk akal. Dan setiap kali gw berusaha meyakinkan diri kalau ini bukan apa-apa, gw malah makin sadar kalau perasaan ini tumbuh diam-diam tanpa pernah minta izin.

Mungkin gw memang mengagumi lo.

Atau mungkin gw cuma belum cukup berani buat ngaku kalau sebenarnya, gw suka sama lo.

Share:

Kamis, 11 Juni 2026

Enough.

Ada titik di hidup ketika seseorang berhenti marah.

Bukan karena sudah memaafkan. Bukan karena sudah ikhlas. Tapi karena lelah.

Lelah menjelaskan hal yang sama berkali-kali kepada orang yang sama. Lelah menunggu perubahan yang selalu dijanjikan tapi tidak pernah datang. Lelah menjadi satu-satunya orang yang peduli sementara yang lain sibuk mencari alasan.

Orang sering mengira batas kesabaran itu meledak dengan teriakan.

Padahal kenyataannya tidak.

Batas kesabaran biasanya datang dengan diam.

Pesan yang tidak lagi dikirim. Telepon yang tidak lagi diangkat. Perasaan yang perlahan dimatikan seperti lampu kamar sebelum tidur.

Karena ada saatnya hati sadar bahwa memperjuangkan sesuatu dan mengemis sesuatu adalah dua hal yang berbeda.

Dan ketika garis itu mulai terlihat, semuanya berubah.

Yang tadinya rela begadang demi satu balasan pesan, sekarang bisa tidur nyenyak tanpa kabar apa pun. Yang tadinya selalu mencari cara untuk bertahan, sekarang diam-diam mencari jalan keluar.

Bukan karena rasa sayangnya hilang.

Justru karena rasa sayangnya terlalu lama dibiarkan berdarah.

Sampai akhirnya muncul satu kalimat sederhana yang terdengar pendek, tapi lahir dari ribuan malam penuh pertimbangan:

Enough's enough.

Sudah cukup.

Cukup mengerti orang lain sampai lupa mengerti diri sendiri.

Cukup memberi kesempatan kepada orang yang menganggap kesempatan itu tidak terbatas.

Cukup menunggu sesuatu yang bahkan tidak sedang berjalan menuju kita.

Dan anehnya, setelah kalimat itu benar-benar diucapkan dalam hati, tidak ada ledakan besar. Tidak ada drama. Tidak ada adegan seperti di film.

Yang ada hanya tenang.

Tenang yang datang setelah perang panjang yang tidak pernah diketahui siapa-siapa.

Karena terkadang kemenangan terbesar bukanlah mendapatkan apa yang kita perjuangkan.

Terkadang kemenangan terbesar adalah mengetahui kapan harus berhenti.

Dan pada hari itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kamu tidak memilih mereka.

Kamu memilih dirimu sendiri.

Share:

Minggu, 07 Juni 2026

Aku, Kamu, Rindu dan sebatang Rokok.

Ada rindu yang terlalu keras untuk di ucapkan.

Bukan karena tidak punya kata, tetapi karena setiap kata terasa terlalu kecil untuk menampung semua yang tertinggal. Maka sebagian orang memilih diam. Sebagian lagi memilih menulis. Dan ada juga yang memilih duduk sendirian di tengah malam, menyalakan sebatang rokok, lalu membiarkan rindunya naik bersama asap yang perlahan menghilang ke udara.

Aneh memang.

Kita tahu asap rokok tidak akan pernah sampai ke tujuan. Tidak akan mengetuk jendela seseorang yang sedang kita pikirkan. Tidak akan menyampaikan pesan bahwa ada hati yang masih sibuk mengingat. Namun tetap saja, setiap hembusan terasa seperti usaha terakhir untuk mengirim sesuatu yang tak pernah berhasil diucapkan.

Mungkin karena rindu dan asap memiliki nasib yang mirip.

Keduanya lahir dari sesuatu yang terbakar.

Asap lahir dari tembakau yang perlahan habis dimakan api. Sedangkan rindu lahir dari kenangan yang terus-menerus dibakar oleh waktu. Semakin lama, semakin tipis. Semakin jauh, semakin menyakitkan. Tetapi entah kenapa tidak pernah benar-benar hilang.

Di jam-jam ketika dunia mulai sepi dan notifikasi berhenti berbunyi, rindu biasanya datang tanpa permisi. Ia duduk di samping kita, membuka album kenangan yang sebenarnya sudah berkali-kali ingin kita tutup.

Lalu satu batang rokok dinyalakan.

Bara merah kecil di ujungnya menjadi satu-satunya hal yang terlihat hidup di tengah gelap. Asap mulai naik, berputar, menari sebentar sebelum akhirnya lenyap.

Dan di situlah seseorang mulai berbicara.

Bukan kepada orang lain.

Bukan kepada dirinya sendiri.

Tetapi kepada seseorang yang sudah tidak ada di dekatnya.

"Lo lagi apa ya sekarang?"

"Masih suka lagu itu nggak?"

"Masih ingat gue nggak?"

Pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah mendapat jawaban.

Pertanyaan yang hanya ditemani asap dan malam.

Ada yang bilang merokok saat sedih itu tidak menyelesaikan masalah. Memang benar. Rokok tidak pernah mengembalikan seseorang. Tidak pernah memperpendek jarak. Tidak pernah membuat pesan yang tidak dibalas tiba-tiba mendapat balasan.

Tapi kadang manusia tidak selalu mencari solusi.

Kadang manusia hanya ingin ditemani.

Dan bagi sebagian orang, sebatang rokok adalah teman paling setia untuk menemani kekacauan yang tidak bisa dijelaskan kepada siapa pun.

Rindu juga seperti itu.

Ia tidak selalu ingin diselesaikan.

Kadang ia hanya ingin dirasakan.

Karena pada akhirnya, tidak semua orang yang kita rindukan bisa kembali. Tidak semua cerita mendapatkan kesempatan kedua. Tidak semua perpisahan memiliki jalan pulang.

Beberapa orang memang hanya ditakdirkan menjadi kenangan.

Dan kenangan punya kebiasaan buruk: datang ketika kita mulai merasa baik-baik saja.

Maka malam kembali panjang.

Lagu lama kembali diputar.

Sebatang rokok kembali menyala.

Asap kembali naik.

Dan rindu kembali mencari jalan pulang yang sebenarnya sudah lama tidak ada.

Mungkin itulah alasan mengapa banyak orang menyampaikan rindu lewat asap rokok.

Bukan karena mereka percaya asap akan sampai.

Tetapi karena mereka tahu ada perasaan yang terlalu berat untuk dipendam, sementara terlalu menyakitkan untuk diucapkan.

Jadi mereka memilih menghembuskannya perlahan ke udara.

Membiarkan malam menyimpan rahasianya.

Dan berharap, entah bagaimana caranya, seseorang di tempat lain tiba-tiba merasa ada yang sedang merindukannya.

Share: