Orang yang pengen gw lupain ngechat lagi.
Padahal baru dua hari.
Dua hari itu bahkan belum cukup buat lupa. Belum cukup buat sembuh. Belum cukup buat bikin nama dia terdengar biasa aja.
Jujur aja, dua hari itu lebih mirip jeda daripada perpisahan.
Masih ada kebiasaan yang belum hilang. Masih ada refleks buat ngecek notifikasi. Masih ada bagian dari otak yang diam-diam berharap dia muncul lagi, meskipun mulut bilang udah nggak peduli.
Terus dia beneran muncul.
Dan anehnya, bukan lega yang gw rasain.
Malah bingung.
Karena selama dua hari itu gw habis-habisan nyakinin diri sendiri kalau mungkin ini memang harus selesai. Bahwa nggak semua orang yang datang harus tinggal. Bahwa kadang melepaskan adalah pilihan paling masuk akal.
Lalu satu chat masuk.
Dan semua kalimat yang udah gw susun rapi di kepala tiba-tiba berantakan.
Gw sadar sesuatu.
Yang berat bukan kehilangan dia selama dua hari itu.
Yang berat adalah menerima kenyataan kalau ternyata gw masih peduli.
Masih peduli sama kabarnya.
Masih peduli sama apa yang dia pikirin.
Masih peduli sama kenapa dia balik lagi.
Dan mungkin itu yang paling nyebelin.
Karena kadang kita pengen jadi orang yang bisa bilang, "Ah, biasa aja."
Padahal dalam hati, satu notifikasi dari orang tertentu masih bisa bikin malam yang tenang berubah jadi ribut.
Mungkin dua hari memang terlalu singkat untuk disebut lupa.
Tapi cukup lama untuk bikin gw sadar bahwa yang selama ini gw lawan bukan dia.
Melainkan harapan-harapan kecil yang masih gw simpan diam-diam. Yang tiap kali gw kira udah mati, ternyata cuma lagi tidur.
0 komentar:
Posting Komentar