Belakangan ini gw sering ngerasa kayak cuma numpang lewat di hidup sendiri.
Bangun, mandi, kerja, pulang, buka HP, ngerokok, tidur. Besoknya diulang lagi. Kadang ada hari yang sedikit lebih baik, kadang malah lebih buruk, tapi entah kenapa semuanya terasa sama. Bahkan hal-hal yang dulu gw tunggu-tunggu sekarang cuma jadi sesuatu yang lewat begitu aja.
Lucu juga, ya. Kita bisa menghabiskan bertahun-tahun buat bertahan hidup, sampai akhirnya lupa kalau hidup seharusnya lebih dari sekadar bertahan.
Gw nggak tahu kapan tepatnya ini mulai terjadi. Nggak ada kejadian besar yang bisa gw tunjuk sambil bilang, oh, sejak hari itu gw berubah. Rasanya lebih kayak kehilangan sesuatu sedikit demi sedikit. Kebiasaan yang dulu bikin senang, orang-orang yang dulu terasa dekat, mimpi-mimpi yang dulu bisa bikin gw susah tidur karena terlalu bersemangat membayangkannya.
Semuanya masih ada di ingatan. Cuma udah nggak terasa sama.
Kadang gw buka foto-foto lama dan mencoba mengingat apa yang sebenarnya gw rasakan waktu itu. Bukan karena gw pengen kembali ke masa lalu. Gw cuma penasaran, kapan terakhir kali gw benar-benar merasa hadir dalam hidup gw sendiri.
Bukan sekadar ada di sana. Bukan sekadar tersenyum waktu difoto atau tertawa karena orang lain sedang bercanda. Tapi benar-benar hadir. Menikmati sesuatu tanpa buru-buru memikirkan hal berikutnya. Berbicara dengan seseorang tanpa diam-diam berharap percakapannya cepat selesai. Tidur malam tanpa merasa ada sesuatu yang belum gw bereskan, meskipun gw sendiri nggak tahu apa itu.
Mungkin gw cuma capek. Mungkin semua orang juga pernah mengalami hal semacam ini dan gw terlalu banyak memikirkannya. Bisa jadi.
Tapi ada sesuatu yang menyedihkan dari menyadari bahwa kita mulai terbiasa dengan kehidupan yang sebenarnya nggak kita sukai.
Kita belajar menerima hal-hal yang bikin kita nggak bahagia, lalu menyebutnya kedewasaan. Kita berhenti mengejar sesuatu, lalu bilang prioritas kita sudah berubah. Kita kehilangan seseorang, kemudian pura-pura nggak peduli karena toh hidup tetap berjalan.
Dan memang benar, hidup tetap berjalan.
Itulah masalahnya.
Dunia nggak pernah benar-benar memberi kita waktu buat memproses apa yang terjadi. Besok pagi alarm tetap berbunyi. Tagihan tetap datang. Orang-orang tetap punya urusannya masing-masing. Bahkan ketika ada sesuatu dalam diri kita yang rasanya sudah berantakan, kita masih harus bangun dan bertingkah seolah semuanya baik-baik saja.
Akhirnya kita jadi ahli dalam menyembunyikan kekacauan sendiri.
Gw bisa bercanda sepanjang hari dan tetap merasa kesepian ketika sampai rumah. Gw bisa bilang semuanya baik-baik saja tanpa perlu memikirkan jawabannya. Gw bisa mendengarkan masalah orang lain, memberikan saran yang masuk akal, lalu melakukan kebalikan dari semua saran itu ketika berhadapan dengan masalah sendiri.
Manusia memang aneh. Kita tahu banyak hal yang seharusnya dilakukan, tetapi pengetahuan itu nggak otomatis membuat kita mampu melakukannya.
Dan mungkin bagian paling melelahkan dari menjadi dewasa adalah menyadari bahwa nggak akan ada seseorang yang datang untuk membereskan semuanya buat kita.
Gw masih punya banyak hal yang ingin gw lakukan. Tempat yang ingin gw kunjungi, uang yang ingin gw hasilkan, versi diri sendiri yang pengen gw temui suatu hari nanti. Gw belum menyerah pada semuanya. Setidaknya, gw rasa belum.
Cuma kadang gw bertanya-tanya apakah gw benar-benar sedang menuju ke sana atau cuma menghabiskan waktu sambil berharap keadaan berubah dengan sendirinya.
Pertanyaan itu biasanya muncul malam-malam, ketika nggak ada lagi yang bisa mengalihkan perhatian. Di sela suara kendaraan dari jalan, notifikasi yang nggak penting, dan rokok yang abunya hampir jatuh ke celana.
Gw nggak pernah menemukan jawaban yang memuaskan.
Mungkin besok gw akan bangun dan melakukan hal yang sama lagi. Mungkin minggu depan juga begitu. Gw nggak punya akhir cerita yang bagus buat tulisan ini, nggak punya pelajaran hidup yang bisa gw tawarkan seolah-olah gw sudah berhasil melewati semuanya.
Gw bahkan nggak yakin kenapa gw menulis ini.
Mungkin karena ada hal-hal yang lebih mudah diakui kepada orang asing daripada kepada diri sendiri. Atau mungkin gw cuma ingin meninggalkan bukti kecil bahwa di antara semua hari yang terasa sama, pernah ada satu malam ketika gw berhenti sebentar dan mencoba memahami apa yang sedang terjadi pada diri gw.
Kalau suatu hari nanti gw membaca tulisan ini lagi, gw harap keadaan gw sudah sedikit berbeda.
Nggak harus kaya raya. Nggak harus punya kehidupan yang terlihat mengesankan di mata orang lain. Gw cuma berharap waktu itu gw sudah lebih jarang merasa seperti orang asing di dalam hidup sendiri.
Bahwa gw punya sesuatu untuk ditunggu ketika bangun pagi.
Bahwa ada orang-orang yang bisa gw ajak bicara tanpa harus berpura-pura menjadi seseorang yang lebih menyenangkan daripada diri gw sebenarnya.
Bahwa gw bisa duduk sendirian di kamar tanpa merasa sedang melarikan diri dari sesuatu.
Dan kalau ternyata semuanya masih sama, ya, setidaknya gw pernah mencoba menuliskannya.
Untuk sekarang, mungkin itu dulu.
Gw masih di sini. Masih menjalani hari-hari yang sama, dengan banyak hal yang belum selesai. Belum menjadi seseorang yang gw inginkan, belum sampai ke tempat yang gw tuju.
Tapi malam ini, setidaknya, gw sadar kalau gw sedang tersesat.
Dan mungkin menyadari itu adalah hal pertama yang seharusnya gw lakukan sejak lama.