Selasa, 13 Oktober 2026

i let the days take me

Belakangan ini gw sering ngerasa kayak cuma numpang lewat di hidup sendiri.

Bangun, mandi, kerja, pulang, buka HP, ngerokok, tidur. Besoknya diulang lagi. Kadang ada hari yang sedikit lebih baik, kadang malah lebih buruk, tapi entah kenapa semuanya terasa sama. Bahkan hal-hal yang dulu gw tunggu-tunggu sekarang cuma jadi sesuatu yang lewat begitu aja.

Lucu juga, ya. Kita bisa menghabiskan bertahun-tahun buat bertahan hidup, sampai akhirnya lupa kalau hidup seharusnya lebih dari sekadar bertahan.

Gw nggak tahu kapan tepatnya ini mulai terjadi. Nggak ada kejadian besar yang bisa gw tunjuk sambil bilang, oh, sejak hari itu gw berubah. Rasanya lebih kayak kehilangan sesuatu sedikit demi sedikit. Kebiasaan yang dulu bikin senang, orang-orang yang dulu terasa dekat, mimpi-mimpi yang dulu bisa bikin gw susah tidur karena terlalu bersemangat membayangkannya.

Semuanya masih ada di ingatan. Cuma udah nggak terasa sama.

Kadang gw buka foto-foto lama dan mencoba mengingat apa yang sebenarnya gw rasakan waktu itu. Bukan karena gw pengen kembali ke masa lalu. Gw cuma penasaran, kapan terakhir kali gw benar-benar merasa hadir dalam hidup gw sendiri.

Bukan sekadar ada di sana. Bukan sekadar tersenyum waktu difoto atau tertawa karena orang lain sedang bercanda. Tapi benar-benar hadir. Menikmati sesuatu tanpa buru-buru memikirkan hal berikutnya. Berbicara dengan seseorang tanpa diam-diam berharap percakapannya cepat selesai. Tidur malam tanpa merasa ada sesuatu yang belum gw bereskan, meskipun gw sendiri nggak tahu apa itu.

Mungkin gw cuma capek. Mungkin semua orang juga pernah mengalami hal semacam ini dan gw terlalu banyak memikirkannya. Bisa jadi.

Tapi ada sesuatu yang menyedihkan dari menyadari bahwa kita mulai terbiasa dengan kehidupan yang sebenarnya nggak kita sukai.

Kita belajar menerima hal-hal yang bikin kita nggak bahagia, lalu menyebutnya kedewasaan. Kita berhenti mengejar sesuatu, lalu bilang prioritas kita sudah berubah. Kita kehilangan seseorang, kemudian pura-pura nggak peduli karena toh hidup tetap berjalan.

Dan memang benar, hidup tetap berjalan.

Itulah masalahnya.

Dunia nggak pernah benar-benar memberi kita waktu buat memproses apa yang terjadi. Besok pagi alarm tetap berbunyi. Tagihan tetap datang. Orang-orang tetap punya urusannya masing-masing. Bahkan ketika ada sesuatu dalam diri kita yang rasanya sudah berantakan, kita masih harus bangun dan bertingkah seolah semuanya baik-baik saja.

Akhirnya kita jadi ahli dalam menyembunyikan kekacauan sendiri.

Gw bisa bercanda sepanjang hari dan tetap merasa kesepian ketika sampai rumah. Gw bisa bilang semuanya baik-baik saja tanpa perlu memikirkan jawabannya. Gw bisa mendengarkan masalah orang lain, memberikan saran yang masuk akal, lalu melakukan kebalikan dari semua saran itu ketika berhadapan dengan masalah sendiri.

Manusia memang aneh. Kita tahu banyak hal yang seharusnya dilakukan, tetapi pengetahuan itu nggak otomatis membuat kita mampu melakukannya.

Dan mungkin bagian paling melelahkan dari menjadi dewasa adalah menyadari bahwa nggak akan ada seseorang yang datang untuk membereskan semuanya buat kita.

Gw masih punya banyak hal yang ingin gw lakukan. Tempat yang ingin gw kunjungi, uang yang ingin gw hasilkan, versi diri sendiri yang pengen gw temui suatu hari nanti. Gw belum menyerah pada semuanya. Setidaknya, gw rasa belum.

Cuma kadang gw bertanya-tanya apakah gw benar-benar sedang menuju ke sana atau cuma menghabiskan waktu sambil berharap keadaan berubah dengan sendirinya.

Pertanyaan itu biasanya muncul malam-malam, ketika nggak ada lagi yang bisa mengalihkan perhatian. Di sela suara kendaraan dari jalan, notifikasi yang nggak penting, dan rokok yang abunya hampir jatuh ke celana.

Gw nggak pernah menemukan jawaban yang memuaskan.

Mungkin besok gw akan bangun dan melakukan hal yang sama lagi. Mungkin minggu depan juga begitu. Gw nggak punya akhir cerita yang bagus buat tulisan ini, nggak punya pelajaran hidup yang bisa gw tawarkan seolah-olah gw sudah berhasil melewati semuanya.

Gw bahkan nggak yakin kenapa gw menulis ini.

Mungkin karena ada hal-hal yang lebih mudah diakui kepada orang asing daripada kepada diri sendiri. Atau mungkin gw cuma ingin meninggalkan bukti kecil bahwa di antara semua hari yang terasa sama, pernah ada satu malam ketika gw berhenti sebentar dan mencoba memahami apa yang sedang terjadi pada diri gw.

Kalau suatu hari nanti gw membaca tulisan ini lagi, gw harap keadaan gw sudah sedikit berbeda.

Nggak harus kaya raya. Nggak harus punya kehidupan yang terlihat mengesankan di mata orang lain. Gw cuma berharap waktu itu gw sudah lebih jarang merasa seperti orang asing di dalam hidup sendiri.

Bahwa gw punya sesuatu untuk ditunggu ketika bangun pagi.

Bahwa ada orang-orang yang bisa gw ajak bicara tanpa harus berpura-pura menjadi seseorang yang lebih menyenangkan daripada diri gw sebenarnya.

Bahwa gw bisa duduk sendirian di kamar tanpa merasa sedang melarikan diri dari sesuatu.

Dan kalau ternyata semuanya masih sama, ya, setidaknya gw pernah mencoba menuliskannya.

Untuk sekarang, mungkin itu dulu.

Gw masih di sini. Masih menjalani hari-hari yang sama, dengan banyak hal yang belum selesai. Belum menjadi seseorang yang gw inginkan, belum sampai ke tempat yang gw tuju.

Tapi malam ini, setidaknya, gw sadar kalau gw sedang tersesat.

Dan mungkin menyadari itu adalah hal pertama yang seharusnya gw lakukan sejak lama.

Share:

Jumat, 09 Oktober 2026

LONELINESS

i think the worst part about loneliness is that nobody really notices when it happens to you.

there's no specific day when you wake up and realize that you've become a lonely person. no dramatic scene, no final goodbye, no particular moment when the world suddenly decides to leave you behind.

it happens quietly.

you reply to fewer messages. you stop telling people about your day. you learn how to eat alone, walk alone, spend your nights alone. eventually, you become so good at pretending that everything is fine that even you start believing it.

until one night, you're lying in bed, staring at the ceiling, wondering when the last time you felt genuinely connected to another human being was.

and you can't remember.

i used to think loneliness meant having nobody around. no friends to hang out with, no one to call at midnight, no one waiting for you to come home.

but growing up, i realized that loneliness isn't always about the absence of people.

sometimes, it's sitting in a room full of them and realizing that none of them really know you.

they know your name. they know what you do for a living, what music you listen to, what kind of jokes make you laugh. they might even know the things that hurt you.

but do they know what goes through your head when the night gets too quiet?

do they know how many conversations you've had with yourself because there was nobody else to talk to? how many times you've typed a message, stared at it for a minute, and deleted everything because you suddenly felt stupid for wanting someone's attention?

probably not.

and maybe that's the problem.

i've spent so much time wishing someone would understand me without realizing how little of myself i've actually allowed anyone to see.

i want to be understood, but i hate explaining myself.

i want someone to notice when something is wrong, but i always say i'm fine.

i want someone to stay, but the moment they get too close, i start preparing myself for the day they'll leave.

it's a ridiculous way to live.

wanting to be loved while constantly looking for evidence that you aren't worth loving.

sometimes, i wonder if i've become a difficult person to know.

not because i'm particularly complicated, but because i've learned to hide everything that might make me vulnerable.

i turn sadness into jokes. i turn disappointment into indifference. i tell people i don't care when, in reality, i've probably thought about the situation a hundred times.

it's easier that way.

if i pretend something doesn't matter, i don't have to admit how much it hurts when i lose it.

if i convince myself that i don't need anyone, i don't have to deal with the embarrassment of needing someone who doesn't need me back.

and if i never expect anything from anyone, then nobody can disappoint me.

at least, that's what i tell myself.

the truth is, you can become so obsessed with protecting yourself from pain that you accidentally protect yourself from everything else, too.

including love.

including friendship.

including the possibility that someone might actually stay.

i don't know when i started doing this. maybe it happened gradually, after enough disappointments, after enough goodbyes, after enough moments when i realized that the people i cared about could live perfectly normal lives without me.

or maybe i've always been like this, and life simply gave me enough reasons to justify it.

either way, i'm tired.

not the kind of tired that disappears after eight hours of sleep.

i'm tired of being the person who understands everyone but rarely feels understood. tired of acting like i have everything under control when half the time, i don't even know what i'm doing with my life.

tired of having so much to say and nobody i feel comfortable saying it to.

there is something strangely humiliating about loneliness.

especially when you're an adult.

you're supposed to have things figured out by now. a career, a decent amount of money, a life that looks like it's going somewhere. you're supposed to be busy building something, becoming someone, making your younger self proud.

instead, some nights, you're just a person sitting in a dark room, scrolling through other people's lives and wondering how everyone seems to have found somewhere to belong.

someone is getting married.

someone is moving into a new apartment.

someone is celebrating a promotion, taking pictures with their friends, making memories they'll probably talk about for years.

and you?

you're watching all of it through a screen, trying not to compare their lives to yours.

you tell yourself that everyone moves at their own pace. that social media only shows the good parts. that you shouldn't measure your life against someone else's.

you know all the right things to say.

but knowing something doesn't always make it easier to feel it.

sometimes, you just wish your life looked a little different.

not extraordinary. not perfect.

just different enough that you wouldn't have to spend so much time convincing yourself that you're okay with where you are.

and maybe that's what hurts the most about growing older.

you begin to understand that life doesn't always turn out the way you imagined, and nobody is coming to guarantee that it eventually will.

you have to keep living anyway.

even when you're lonely.

especially when you're lonely.

i think i've made a home out of loneliness.

not because i enjoy it, but because it's familiar.

i know what to do when nobody texts me. i know how to spend a weekend without making plans. i know how to carry a bad day into the next morning without telling anybody about it.

i know how to exist without being noticed.

and somewhere along the way, i stopped asking whether this was the life i wanted and started treating it like the life i deserved.

there's a difference between being comfortable alone and believing that being alone is all you'll ever get.

i'm afraid i've confused the two.

because, despite everything i tell myself, i still want the ordinary things.

i want someone to ask how my day went and actually care about the answer.

i want to share a stupid thought without worrying that i'm being annoying. i want to send someone a song and explain why a particular line reminds me of something i can barely put into words.

i want to have a bad day without feeling like i have to disappear until i'm okay again.

i want to be known beyond the version of myself that i present to the world.

not admired. not needed for what i can provide. not remembered only when someone has nobody else to turn to.

just known.

to be seen on the days when i'm not funny, not interesting, not useful, not particularly easy to love.

to have someone look at the parts of me i've spent years hiding and decide that they're not reasons to leave.

maybe that's too much to ask.

or maybe i've spent so long expecting so little that a normal amount of affection feels like an unreasonable request.

i honestly don't know anymore.

there's a line between being alone and being lonely, and i think i've been standing on it for so long that i've forgotten which side i'm on.

some days, i genuinely enjoy my own company. i like the quiet. i like not having to explain myself. i like being able to exist without meeting anyone's expectations.

other days, the silence feels unbearable.

the same room that gives me peace starts feeling like a cage. the same phone that gives me something to do becomes a reminder of all the conversations that never happen.

nothing has changed, really.

it's still the same room. the same phone. the same person.

maybe loneliness isn't always about needing more people in your life.

maybe sometimes, it's about needing a life in which you don't feel like a stranger to yourself.

because how can i expect someone else to understand me when i barely understand the person i've become?

how can i ask someone to stay when i've spent years convincing myself that nobody ever will?

i don't have an answer.

i'm not writing this because i've figured anything out. i'm writing it because i'm tired of pretending that every feeling needs to be turned into a lesson before it's allowed to exist.

sometimes, sadness is just sadness.

sometimes, loneliness doesn't make you stronger, wiser, or more independent.

sometimes, it just hurts.

and i think i'm allowed to admit that.

i don't know what the future looks like for me.

i don't know if i'll eventually find people who make the world feel a little less distant, or if i'll spend the next few years learning how to live with the person i've become.

i don't know if one day i'll look back at this version of myself and feel grateful that i survived it, or wonder why i spent so much of my life waiting for things to change.

all i know is that i'm still here.

still listening to music that says things i can't say myself. still finding comfort in the late hours of the night. still hoping, despite all my attempts to convince myself otherwise, that somewhere out there is a person with whom i won't have to pretend.

someone who won't need me to be interesting all the time.

someone who won't mistake my silence for indifference.

someone who understands that sometimes, when i say i want to be alone, what i really mean is that i'm afraid of being unwanted.

i know that nobody can save me from my own life. i know that people have their own struggles, their own responsibilities, their own reasons for coming and going.

i don't expect anyone to carry the weight of my existence.

i just hope that, one day, i won't have to carry all of it in silence.

until then, i'll keep going.

not because i've learned to love being alone.

not because i've finally made peace with everything that's missing.

but because somewhere beneath all this indifference, beneath all the excuses and the walls i've built around myself, there's still a part of me that wants to believe things can be different.

a part of me that hasn't completely given up on being understood.

and maybe, for now, that's enough.

maybe healing doesn't always begin with finding someone who makes you feel less alone.

maybe it begins with admitting that you are.

and finally allowing yourself to say it out loud.

i'm lonely.

not because i have nobody.

but because, for a long time, i've felt like nobody really knows me.

and i'm tired of pretending that doesn't matter.

Share:

Kamis, 08 Oktober 2026

Rokok terakhir nggak pernah jadi yang terakhir.

Ada satu kebohongan kecil yang paling sering gw katakan ke diri sendiri:

“ini terakhir.”

Biasanya sambil menyalakan rokok.

Asap pertama masuk, lalu gw duduk dan pura-pura percaya kalau setelah ini semuanya akan berubah.

Rokok ini terakhir.

Besok gw berhenti.

Besok gw mulai hidup lebih sehat.

Besok gw tidur lebih cepat.

Besok gw berhenti memikirkan dia.

Besok gw berhenti melakukan hal-hal yang sebenarnya gw tahu sedang menghancurkan diri sendiri.

Aneh ya.

Kita selalu menaruh versi terbaik dari diri kita di hari esok.

Seolah-olah besok adalah tempat khusus di mana semua kelemahan kita tiba-tiba kehilangan akses.

Padahal besok cuma hari ini yang ditunda.

Dan gw sudah terlalu sering menunda diri sendiri.

Rokok terakhir nggak pernah benar-benar jadi rokok terakhir.

Begitu juga pesan terakhir yang katanya nggak akan pernah gw kirim lagi.

Stalking terakhir yang katanya cuma “sekali ini aja.”

Malam terakhir begadang.

Kesempatan terakhir buat kembali ke sesuatu yang jelas-jelas pernah menghancurkan gw.

Kita menyebutnya “terakhir” bukan karena kita benar-benar yakin akan berhenti.

Kita menyebutnya terakhir karena kita butuh alasan untuk tetap melakukannya malam ini.

Mungkin itu yang paling menyedihkan dari manusia.

Kita sering kali nggak membutuhkan kebohongan dari orang lain.

Kita cukup pandai berbohong kepada diri sendiri.

Dan yang lebih buruk—

kita selalu tahu kapan kita sedang melakukannya.

Gw tahu rokok ini bukan yang terakhir.

Gw tahu besok kemungkinan besar gw akan mengulang semuanya.

Tapi malam ini, setidaknya, gw masih bisa berpura-pura bahwa gw sedang memulai sesuatu.

Bukan mengakhirinya.

Mungkin karena berhenti memang nggak pernah sesederhana membuang sesuatu dari tangan.

Kadang yang harus dibuang bukan rokoknya.

Bukan orangnya.

Bukan kebiasaannya.

Tapi versi diri kita yang selalu membutuhkan semua itu untuk merasa baik-baik saja.

Dan mungkin itu alasan kenapa kita terus gagal.

Karena kita terlalu fokus pada apa yang harus kita lepaskan, tanpa pernah bertanya:

sebenarnya, setelah semua itu pergi, gw mau jadi siapa?

Share:

Senin, 05 Oktober 2026

alexandra, dan kebodohan yang kita sebut cinta

Hi. I'm Galby.

Gw nulis ini bukan sebagai orang yang paling ngerti soal cinta. Malah mungkin kebalikannya.

Gw cuma seseorang yang terlalu sering memikirkan hal-hal yang seharusnya sudah selesai. Percakapan yang harusnya biasa aja tapi gw putar ulang di kepala. Orang-orang yang sebenarnya cuma mampir sebentar, tapi entah kenapa ninggalin sesuatu yang bertahan jauh lebih lama.

Mungkin itu juga alasan kenapa gw suka lagu seperti Alexandra.

Ada lagu yang cuma enak didengar.

Ada lagu yang bikin lu mengangguk karena liriknya bagus.

Dan ada lagu yang tiba-tiba terasa seperti seseorang sedang membacakan isi kepala lu tanpa izin.

Buat gw, Alexandra ada di kategori terakhir.

Gw nggak tahu sejak kapan lagu ini berubah dari sekadar lagu Reality Club menjadi sesuatu yang terasa terlalu personal. Mungkin karena ada masa di hidup gw ketika seseorang nggak perlu melakukan apa-apa untuk menjadi penting. Cukup muncul beberapa kali, ngobrol sedikit, ketawa sebentar, lalu entah bagaimana namanya bisa tinggal lebih lama di kepala daripada seharusnya.

Yang paling menyebalkan dari perasaan seperti itu adalah lu biasanya sadar.

Lu tahu lu mulai terlalu tertarik.

Lu tahu lu mulai mencari-cari alasan untuk melihat dia.

Lu tahu ada sesuatu yang sebenarnya nggak masuk akal dari cara lu memikirkan seseorang yang bahkan belum tentu memikirkan lu dengan cara yang sama.

Tapi lu tetap melakukannya.

Dan setiap kali Alexandra diputar, gw selalu merasa lagu ini seperti sedang menertawakan kebodohan itu.

Bukan karena cintanya palsu.

Justru karena perasaannya mungkin terlalu nyata.


ada jenis ketertarikan yang nggak datang dengan niat baik.

dia nggak datang buat menetap. nggak datang buat menyembuhkan. bahkan kadang nggak datang dengan kemungkinan untuk dimiliki.

dia cuma datang, duduk sebentar di kepala lu, lalu perlahan-lahan bikin semua hal yang sebelumnya masuk akal jadi terasa nggak penting.

mungkin itu yang gw rasain ketika denger Alexandra dari Reality Club.

di permukaan, ini cuma lagu tentang seorang cowok yang jatuh cinta sama seorang perempuan yang menurutnya luar biasa. seorang goddess. seorang rock star. seseorang yang bahkan belum terlalu dia kenal, tapi entah bagaimana sudah berhasil menempati ruang yang terlalu besar di kepalanya.

tapi semakin gw dengerin, semakin gw ngerasa lagu ini bukan tentang cinta.

ini tentang kebodohan yang kita lakukan ketika kita tahu kita sedang jatuh cinta.


lu tahu dia trouble.

lu bahkan tahu itu sejak awal.

nggak ada plot twist. nggak ada pengkhianatan besar yang baru lu temukan di akhir cerita.

lu udah dikasih disclaimer dari awal.

she's trouble.

dan lu tetap maju.

anehnya, manusia memang sering seperti itu.

kita bisa membaca red flag dengan sangat jelas ketika melihat hubungan orang lain, tapi begitu bendera yang sama dikibarkan di depan muka sendiri, kita malah sibuk mencari alasan kenapa warna merah itu sebenarnya cuma efek cahaya.

“dia sebenarnya baik kok.”

“dia cuma lagi capek.”

“dia cuma belum sembuh.”

“mungkin gw bisa ngerti dia.”

padahal mungkin masalahnya bukan apakah dia bisa diperbaiki.

mungkin masalahnya adalah kenapa lu merasa harus memperbaikinya sejak awal.


yang lebih menarik adalah Alexandra bahkan belum benar-benar mengenal narrator.

even though I barely met her.

dan di situ semuanya menjadi sedikit absurd.

bagaimana mungkin seseorang yang baru sedikit kita kenal bisa membuat kita merasa seolah-olah sudah menemukan seseorang yang selama ini kita cari?

karena ternyata manusia punya kemampuan luar biasa untuk mengisi kekosongan informasi dengan imajinasi.

lu tahu sedikit tentang seseorang.

lalu otak lu mengerjakan sisanya.

cara dia tertawa menjadi bukti bahwa dia hangat.

cara dia diam menjadi bukti bahwa dia dalam.

cara dia menjauh menjadi bukti bahwa dia takut terluka.

dan tanpa sadar, lu nggak lagi jatuh cinta sama manusia.

lu jatuh cinta sama interpretasi lu tentang manusia itu.

Alexandra mungkin bahkan bukan Alexandra yang sebenarnya.

dia adalah Alexandra yang hidup di kepala seseorang yang sedang jatuh cinta.

dan versi itu selalu lebih sempurna.


mungkin itu kenapa bagian tentang menunggu terasa begitu absurd.

500 juta jam.

bangku taman.

bulan.

secara literal, itu nggak masuk akal.

tapi cinta juga nggak pernah benar-benar meminta izin kepada logika.

ketika lu sudah terlalu jauh masuk ke dalam perasaan, pengorbanan yang seharusnya terdengar bodoh bisa terasa romantis.

menunggu seseorang bertahun-tahun?

romantis.

memaafkan hal yang sama berkali-kali?

romantis.

tetap bertahan meskipun lu tahu lu perlahan kehilangan diri sendiri?

“namanya juga cinta.”

kadang kita memang punya kebiasaan buruk dalam mengubah penderitaan menjadi sesuatu yang terdengar indah.

seolah-olah semakin sakit sesuatu, semakin dalam pula perasaan kita.

padahal belum tentu.

bisa jadi lu cuma sedang terluka.


dan mungkin bagian paling menyedihkan dari Alexandra adalah ketika dia sudah tahu bahwa mereka mungkin akan menghancurkan hati masing-masing bahkan sebelum semuanya dimulai.

before we'd even start.

bayangin.

lu belum punya hubungan.

belum punya kenangan.

belum punya janji.

belum punya masa depan.

tapi lu sudah bisa membayangkan bagaimana semuanya berakhir.

dan lu tetap masuk.

mungkin karena ada sesuatu yang lebih menakutkan daripada patah hati:

nggak pernah mencoba sama sekali.

setidaknya itu yang sering kita katakan kepada diri sendiri.

padahal kadang kita bukan sedang berani.

kita cuma sudah terlalu penasaran untuk mundur.


gw rasa itu yang membuat Alexandra terasa berbeda.

lagunya terdengar ringan.

catchy.

bahkan menyenangkan.

tapi di balik melodinya ada seseorang yang secara sadar sedang menyerahkan kendali kepada sesuatu yang dia sendiri tahu nggak bisa dia kendalikan.

dan mungkin cinta memang sering seperti itu.

lu bisa menghitung risiko.

lu bisa melihat red flag.

lu bisa tahu kemungkinan akhirnya.

lu bisa tahu bahwa orang itu mungkin nggak akan pernah menjadi milik lu.

tapi pada akhirnya, hati nggak bekerja seperti spreadsheet Excel.

kadang lu cuma melihat seseorang dan berpikir:

“fuck it. gw mau.”

meskipun lu tahu mungkin nanti lu yang harus membayar harganya.


mungkin Alexandra bukan tentang menemukan seseorang yang tepat.

mungkin Alexandra tentang menemukan seseorang yang membuat lu rela menjadi sedikit lebih bodoh daripada biasanya.

dan mungkin itu bagian paling manusiawi dari jatuh cinta.

karena pada titik tertentu, kita semua pernah menjadi orang yang menunggu seseorang yang bahkan nggak pernah berjanji akan datang.

duduk di bangku yang sama.

melihat jalan yang sama.

sambil berpura-pura bahwa menunggu adalah bentuk kesetiaan.

padahal mungkin cuma ketidakmampuan untuk pergi.

dan lucunya—

kita tetap menyebutnya cinta.


mungkin gw juga pernah jadi Alexandra

Setelah nulis semua ini, gw jadi sadar satu hal.

Mungkin alasan gw terlalu suka Alexandra bukan karena gw merasa seperti narrator-nya.

Mungkin karena gw tahu rasanya menjadi orang yang terlalu lama tinggal di kepala seseorang.

Menjadi seseorang yang mungkin cuma muncul sebentar dalam cerita orang lain, tapi tanpa sadar menjadi bagian yang paling susah mereka hapus.

Dan mungkin, di sisi lain, gw juga pernah melakukan hal yang sama.

Pernah menganggap seseorang lebih istimewa daripada kenyataannya.

Pernah mengambil beberapa percakapan kecil dan membangun cerita besar di atasnya.

Pernah mengira sebuah tatapan berarti sesuatu.

Pernah menunggu pesan yang sebenarnya nggak pernah dijanjikan.

Pernah menyimpan seseorang bukan karena dia masih ada, tapi karena versi dirinya di kepala gw terasa terlalu indah untuk dilepaskan.

Lucu ya.

Kita sering bilang kita takut kehilangan seseorang.

Padahal yang paling sering kita takutkan adalah kehilangan cerita yang kita buat tentang mereka.

Dan mungkin sekarang gw mulai belajar bahwa nggak semua orang yang membuat kita merasa sesuatu harus kita miliki.

Nggak semua perasaan harus berakhir menjadi hubungan.

Nggak semua kekaguman harus mendapat balasan.

Dan nggak semua orang yang datang sebentar harus tinggal selamanya.

Ada orang-orang yang memang cuma datang untuk mengajarkan satu hal:

bahwa ternyata kita masih bisa merasakan sesuatu sedalam itu.

Setelahnya, mereka pergi.

Kita yang tinggal.

Membawa lagunya.

Membawa kenangannya.

Dan mungkin sedikit rasa malu karena pernah sebegitu bodohnya.

Tapi nggak apa-apa.

Karena kalau suatu hari nanti Alexandra kembali terdengar dari speaker kecil di kamar gw, mungkin gw nggak akan lagi bertanya:

“kenapa dulu gw sebegitu gilanya sama dia?”

Mungkin gw cuma akan tersenyum dan bilang:

“oh, ternyata waktu itu gw pernah sesayang itu.”

Dan untuk sekarang, gw rasa itu sudah cukup.

— Galby

Share: