Ada rindu yang terlalu keras untuk di ucapkan.
Bukan karena tidak punya kata, tetapi karena setiap kata terasa terlalu kecil untuk menampung semua yang tertinggal. Maka sebagian orang memilih diam. Sebagian lagi memilih menulis. Dan ada juga yang memilih duduk sendirian di tengah malam, menyalakan sebatang rokok, lalu membiarkan rindunya naik bersama asap yang perlahan menghilang ke udara.
Aneh memang.
Kita tahu asap rokok tidak akan pernah sampai ke tujuan. Tidak akan mengetuk jendela seseorang yang sedang kita pikirkan. Tidak akan menyampaikan pesan bahwa ada hati yang masih sibuk mengingat. Namun tetap saja, setiap hembusan terasa seperti usaha terakhir untuk mengirim sesuatu yang tak pernah berhasil diucapkan.
Mungkin karena rindu dan asap memiliki nasib yang mirip.
Keduanya lahir dari sesuatu yang terbakar.
Asap lahir dari tembakau yang perlahan habis dimakan api. Sedangkan rindu lahir dari kenangan yang terus-menerus dibakar oleh waktu. Semakin lama, semakin tipis. Semakin jauh, semakin menyakitkan. Tetapi entah kenapa tidak pernah benar-benar hilang.
Di jam-jam ketika dunia mulai sepi dan notifikasi berhenti berbunyi, rindu biasanya datang tanpa permisi. Ia duduk di samping kita, membuka album kenangan yang sebenarnya sudah berkali-kali ingin kita tutup.
Lalu satu batang rokok dinyalakan.
Bara merah kecil di ujungnya menjadi satu-satunya hal yang terlihat hidup di tengah gelap. Asap mulai naik, berputar, menari sebentar sebelum akhirnya lenyap.
Dan di situlah seseorang mulai berbicara.
Bukan kepada orang lain.
Bukan kepada dirinya sendiri.
Tetapi kepada seseorang yang sudah tidak ada di dekatnya.
"Lo lagi apa ya sekarang?"
"Masih suka lagu itu nggak?"
"Masih ingat gue nggak?"
Pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah mendapat jawaban.
Pertanyaan yang hanya ditemani asap dan malam.
Ada yang bilang merokok saat sedih itu tidak menyelesaikan masalah. Memang benar. Rokok tidak pernah mengembalikan seseorang. Tidak pernah memperpendek jarak. Tidak pernah membuat pesan yang tidak dibalas tiba-tiba mendapat balasan.
Tapi kadang manusia tidak selalu mencari solusi.
Kadang manusia hanya ingin ditemani.
Dan bagi sebagian orang, sebatang rokok adalah teman paling setia untuk menemani kekacauan yang tidak bisa dijelaskan kepada siapa pun.
Rindu juga seperti itu.
Ia tidak selalu ingin diselesaikan.
Kadang ia hanya ingin dirasakan.
Karena pada akhirnya, tidak semua orang yang kita rindukan bisa kembali. Tidak semua cerita mendapatkan kesempatan kedua. Tidak semua perpisahan memiliki jalan pulang.
Beberapa orang memang hanya ditakdirkan menjadi kenangan.
Dan kenangan punya kebiasaan buruk: datang ketika kita mulai merasa baik-baik saja.
Maka malam kembali panjang.
Lagu lama kembali diputar.
Sebatang rokok kembali menyala.
Asap kembali naik.
Dan rindu kembali mencari jalan pulang yang sebenarnya sudah lama tidak ada.
Mungkin itulah alasan mengapa banyak orang menyampaikan rindu lewat asap rokok.
Bukan karena mereka percaya asap akan sampai.
Tetapi karena mereka tahu ada perasaan yang terlalu berat untuk dipendam, sementara terlalu menyakitkan untuk diucapkan.
Jadi mereka memilih menghembuskannya perlahan ke udara.
Membiarkan malam menyimpan rahasianya.
Dan berharap, entah bagaimana caranya, seseorang di tempat lain tiba-tiba merasa ada yang sedang merindukannya.
0 komentar:
Posting Komentar