ada sesuatu yang belakangan ini gw pikirin tentang waktu, tentang bagaimana kita menjalani hidup seolah-olah kita punya kesempatan yang nggak terbatas untuk memperbaiki semuanya.
kita menunda banyak hal. menunda bahagia sampai hidup terasa lebih baik, menunda mencintai seseorang sampai kita merasa cukup pantas untuk dicintai, menunda mengatakan apa yang sebenarnya kita rasakan karena selalu ada hari esok untuk melakukannya.
kita hidup seolah-olah besok adalah sesuatu yang sudah pasti menjadi milik kita.
padahal, siapa yang benar-benar tahu?
gw teringat sebuah dialog dari film Troy, ketika Achilles berkata bahwa para dewa iri kepada manusia karena kita fana. karena setiap saat bisa menjadi saat terakhir kita. karena segala sesuatu menjadi lebih indah justru karena kita ditakdirkan untuk kehilangan semuanya.
everything is more beautiful because we're doomed.
awalnya terdengar seperti sesuatu yang ditulis oleh orang yang terlalu banyak memikirkan kematian. tapi semakin gw pikirkan, semakin masuk akal kalimat itu.
mungkin sesuatu memang terasa berharga karena kita tahu kita nggak bisa memilikinya selamanya.
coba pikirin tentang seseorang yang pernah begitu dekat dengan lo. seseorang yang dulu bisa lo temui kapan saja, yang pesannya bisa lo balas nanti, yang kehadirannya terasa biasa karena lo pikir dia akan selalu ada. sampai suatu hari, entah karena keadaan, waktu, atau keputusan yang nggak bisa ditarik kembali, semuanya berubah.
dan tiba-tiba, hal-hal kecil yang dulu nggak pernah lo perhatikan menjadi sesuatu yang ingin lo ulangi.
percakapan yang nggak penting. perjalanan pulang yang terasa membosankan. suara seseorang yang dulu lo dengar hampir setiap hari. bahkan keheningan ketika kalian duduk bersama tanpa perlu membicarakan apa pun.
anehnya, kita sering baru mengerti betapa berharganya sesuatu setelah kita nggak lagi punya kesempatan untuk mengalaminya.
mungkin itu kutukan paling menyedihkan dari menjadi manusia. kita punya kemampuan untuk mengingat, tetapi nggak punya kemampuan untuk kembali. kita bisa memutar ulang sebuah kejadian ribuan kali di kepala, mengingat setiap detailnya, membayangkan apa yang seharusnya kita lakukan secara berbeda, tetapi pada akhirnya kita cuma bisa duduk bersama ingatan itu dan menerima bahwa semuanya sudah selesai.
waktu nggak pernah benar-benar menjelaskan bahwa sesuatu sedang menjadi kenangan. dia cuma berjalan, sementara kita terlalu sibuk menganggap semuanya akan tetap sama.
dan gw rasa, itulah yang membuat hidup terasa begitu aneh.
kita menghabiskan bertahun-tahun mencoba menjadi seseorang yang lebih baik, sampai terkadang lupa bahwa diri kita yang sekarang juga sedang menjalani kehidupan yang suatu hari nanti akan kita rindukan.
kita membenci keadaan kita sekarang. membenci pekerjaan yang melelahkan, uang yang nggak pernah cukup, kesalahan-kesalahan yang terus menghantui, dan kehidupan yang rasanya berjalan jauh lebih lambat daripada yang kita harapkan. kita ingin segera keluar dari fase ini, ingin sampai di suatu tempat ketika semuanya akhirnya masuk akal.
tapi bagaimana kalau bertahun-tahun dari sekarang, ada bagian kecil dari diri kita yang justru merindukan masa-masa ini?
bukan karena masa itu menyenangkan. bukan juga karena penderitaan tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang indah. mungkin kita cuma akan merindukan kenyataan bahwa kita pernah berada di sana. bahwa kita pernah punya kesempatan untuk mencoba lagi, untuk bertemu seseorang sekali lagi, untuk memperbaiki satu hal yang kita sesali, atau sekadar menikmati sore tanpa mengetahui bahwa hari itu adalah salah satu dari sekian banyak hari yang nggak akan pernah kembali.
we will never be here again.
kita nggak akan pernah berada di sini lagi.
kalimat itu terdengar sederhana, tetapi ada sesuatu yang menyakitkan ketika lo benar-benar memahaminya. sebab bukan cuma tempat dan waktunya yang nggak akan kembali. kita sendiri juga akan berubah. orang-orang yang kita cintai akan berubah. hal-hal yang sekarang terasa begitu penting mungkin suatu hari nggak lagi berarti apa-apa.
bahkan versi diri kita yang sedang membaca tulisan ini, dengan segala ketakutan, keinginan, dan penyesalannya, perlahan akan menjadi seseorang yang hanya bisa kita kenang.
dan mungkin, pada akhirnya, kita nggak benar-benar takut pada kematian. mungkin kita takut pada semua hal yang belum sempat kita lakukan sebelum kematian datang. pada kata-kata yang nggak pernah kita ucapkan, perasaan yang terlalu lama kita sembunyikan, kesempatan yang kita biarkan lewat karena merasa belum siap, dan kehidupan yang terus kita tunda sampai kita merasa pantas untuk menjalaninya.
kita ingin punya lebih banyak waktu, tetapi kita juga sering menyia-nyiakan waktu yang sudah kita punya.
ironis, ya?
gw nggak tahu apakah hidup akan terasa lebih mudah kalau kita menerima kenyataan bahwa semuanya bersifat sementara. mungkin nggak. kehilangan tetap menyakitkan, penyesalan tetap tinggal, dan ada beberapa hal yang memang nggak akan pernah bisa diperbaiki seberapa keras pun kita mencoba.
tapi mungkin kita bisa berhenti memperlakukan setiap hari seolah-olah itu cuma pengantar menuju hari yang lebih baik.
mungkin kita bisa mulai memperhatikan hal-hal yang selama ini kita anggap biasa. menelepon seseorang sebelum kita benar-benar merindukannya. mengatakan bahwa kita menyayangi seseorang tanpa menunggu momen yang sempurna. menikmati sesuatu tanpa merasa bersalah karena hidup kita belum sepenuhnya beres.
dan mungkin kita bisa belajar memaafkan diri sendiri karena belum menjadi orang yang kita inginkan.
sebab kita nggak harus menunggu kehidupan menjadi sempurna untuk menyadari bahwa kita sedang hidup.
barangkali itulah yang dimaksud Achilles ketika dia mengatakan bahwa para dewa iri kepada kita. mereka mungkin memiliki keabadian, tetapi kita memiliki sesuatu yang jauh lebih rapuh sekaligus jauh lebih berharga: kesempatan untuk mengalami sesuatu yang nggak akan pernah terjadi dengan cara yang sama untuk kedua kalinya.
kita bisa jatuh cinta karena kita tahu seseorang bisa pergi. kita bisa menangis karena sesuatu pernah berarti begitu banyak. kita bisa merindukan masa lalu karena kita pernah menjadi bagian darinya.
dan kita bisa menghargai hari ini, bukan karena kita tahu apa yang akan terjadi besok, melainkan justru karena kita nggak pernah benar-benar tahu.
jadi, kalau hari ini hidup masih terasa berantakan, mungkin nggak apa-apa. kalau lo belum sampai ke tempat yang selama ini lo impikan, mungkin lo nggak harus membenci setiap langkah yang membawa lo ke sana. dan kalau ada hal-hal yang masih lo sesali, semoga suatu hari nanti lo bisa berdamai dengan kenyataan bahwa lo juga manusia yang sedang belajar menjalani hidup untuk pertama kalinya.
kita nggak punya kendali atas berapa lama semuanya akan bertahan. kita nggak bisa meminta waktu berhenti ketika sesuatu terasa indah, dan kita nggak bisa memaksanya kembali ketika semuanya sudah berakhir.
yang bisa kita lakukan cuma berada di sini, selama kita masih punya kesempatan.
karena suatu hari nanti, tanpa kita sadari, hari ini akan menjadi masa lalu. orang-orang yang sekarang ada di sekitar kita mungkin hanya akan tinggal sebagai nama dalam ingatan. dan kehidupan yang sekarang begitu ingin kita tinggalkan mungkin akan menjadi sesuatu yang ingin kita kunjungi sekali lagi, meskipun cuma untuk lima menit.
lima menit untuk mengatakan sesuatu yang belum sempat kita katakan.
lima menit untuk memeluk seseorang sedikit lebih lama.
lima menit untuk menyadari bahwa kita sebenarnya pernah bahagia, bahkan ketika saat itu kita terlalu sibuk mencari kebahagiaan di tempat lain.
tapi waktu nggak bekerja seperti itu.
jadi, mungkin kita harus berhenti menunggu kesempatan kedua untuk menghargai kesempatan pertama.
karena pada akhirnya, kita semua sedang menuju tempat yang sama, hanya dengan cerita yang berbeda. dan selama perjalanan itu masih berlangsung, selama kita masih bisa merasakan, mencintai, kehilangan, dan mencoba lagi, mungkin ada baiknya kita nggak terlalu terburu-buru melewati semuanya.
the sunset is beautiful because it doesn't stay.
some people are beautiful because we can't keep them forever.
and maybe life is beautiful for the very same reason.
kita nggak akan pernah berada di sini lagi.
setidaknya, kalau suatu hari nanti semuanya benar-benar berakhir, semoga kita nggak perlu menghabiskan sisa ingatan kita dengan berharap telah menjalani hidup sedikit lebih berani.
0 komentar:
Posting Komentar