Aku pernah percaya, hidup ini punya arah yang rapi—seperti garis lurus yang digambar dengan penggaris. Tinggal ikuti, patuhi, dan pada akhirnya semua akan sampai di tempat yang disebut “bahagia”.
Tapi kenyataannya jauh lebih kejam.
Garis itu patah.
Peta itu salah.
Dan aku… ditinggalkan sendirian di tengah jalan yang bahkan tak punya nama.
Aku berjalan, ya—tapi bukan karena tahu harus ke mana.
Aku berjalan karena diam terasa lebih menyakitkan. Karena berhenti berarti harus mengakui bahwa aku benar-benar tidak tahu arah pulang.
Orang-orang bilang, “tenang aja, semua orang punya jalannya masing-masing.”
Lucu. Mereka bilang itu seolah jalan itu pasti ada.
Padahal, ada orang-orang sepertiku—yang bahkan tidak diberi peta sejak awal.
Tidak ada garis. Tidak ada tanda. Tidak ada suara yang membisikkan, “ke sini, ini yang benar.”
Yang ada cuma kebisingan.
Ekspektasi.
Perbandingan.
Dan perasaan tertinggal yang pelan-pelan menggerogoti harga diri.
Aku melihat mereka melangkah dengan yakin.
Memilih tanpa ragu.
Mencintai tanpa takut kehilangan arah.
Sementara aku?
Setiap langkah terasa seperti perjudian.
Setiap keputusan terasa seperti kesalahan yang hanya tinggal menunggu waktu untuk membuktikan dirinya benar-benar salah.
Aku pernah mencoba mengikuti peta orang lain.
Meniru arah mereka.
Meng-copy keputusan mereka.
Dan untuk sesaat… semuanya terlihat baik-baik saja.
Sampai akhirnya aku sadar—
aku tidak sedang hidup.
Aku hanya sedang menjadi versi gagal dari orang lain.
Sejak saat itu, aku berhenti mencari peta.
Bukan karena aku sudah menemukan arah—
tapi karena aku lelah berharap ada yang akan menuntunku.
Aku mulai berjalan dengan cara yang lebih jujur.
Lebih berantakan.
Lebih sunyi.
Aku mulai menerima bahwa tersesat bukanlah kesalahan—
itu adalah kondisi yang harus kupelajari.
Bahwa kehilangan arah bukan berarti kehilangan makna.
Bahwa tidak tahu ke mana harus pergi bukan berarti aku tidak pantas sampai di mana pun.
Dan perlahan, tanpa kusadari…
aku mulai mengenali sesuatu.
Bukan tujuan.
Bukan jalan.
Tapi diriku sendiri.
Aku belajar membaca luka seperti petunjuk.
Aku belajar memahami kecewa seperti kompas yang rusak—tidak selalu akurat, tapi tetap menunjukkan sesuatu.
Aku belajar bahwa arah tidak selalu harus ditemukan… kadang, arah itu diciptakan.
Aku bukan manusia yang berjalan di atas peta.
Aku adalah manusia yang menggambar jalannya sendiri—meskipun tanganku gemetar, meskipun garisnya tidak lurus.
Dan mungkin… memang seperti itu seharusnya.
Karena pada akhirnya, yang paling menakutkan bukanlah tersesat.
Tapi menemukan diri kita sampai di suatu tempat—
yang ternyata bukan tujuan kita sejak awal.
0 komentar:
Posting Komentar