Ada hari-hari di mana gw bangun bukan sebagai gw, tapi sebagai seseorang yang harus berpura-pura jadi “cukup.”
Cukup baik.
Cukup pantas.
Cukup untuk tidak ditinggalkan.
Padahal jauh di dalam, gw tau—gw gak pernah merasa cukup.
Self-loathing itu aneh.
Dia gak datang dengan suara keras.
Dia datang pelan, duduk di sebelah lo, lalu mulai berbisik hal-hal yang lama-lama kedengeran kayak kebenaran.
“Lo gak seberharga itu.”
“Semua orang cuma pura-pura peduli.”
“Kalau mereka kenal lo yang sebenarnya, mereka bakal pergi.”
Dan yang lebih parah?
gw percaya.
Insecurity bukan cuma soal gak pede sama penampilan.
Ini lebih dalam dari itu.
Ini tentang ngerasa kayak semua yang lo punya—kepribadian lo, cara lo mikir, cara lo mencintai—semuanya flawed.
Kayak ada cacat bawaan yang gak bisa diperbaiki.
Jadi lo mulai nyaring diri sendiri.
Nahan kata-kata sebelum keluar.
Ngerem perasaan sebelum terlalu keliatan.
Ngurangin diri lo sendiri biar orang lain nyaman.
Ironisnya, makin lo berusaha “fit in,” makin lo ngerasa gak punya tempat.
Itu dia alienation.
Rasa asing yang gak bisa dijelaskan.
Bahkan di tengah orang-orang terdekat, lo masih ngerasa kayak penonton.
Kayak semua orang dapet script kehidupan, tapi lo enggak.
Mereka ketawa, lo ikut ketawa.
Mereka cerita, lo ikut denger.
Tapi di dalam kepala lo sendiri… kosong.
Atau justru terlalu penuh.
Penuh overthinking.
Penuh skenario terburuk.
Penuh rasa takut ditinggalkan, padahal belum tentu ada yang mau tinggal.
Kadang gw mikir—apa ini semua karena gw terlalu sadar diri?
Atau justru karena gw gak pernah benar-benar kenal siapa diri gw?
gw cuma tahu satu hal:
gw capek jadi orang yang selalu merasa kurang.
Capek ngejar validasi dari orang yang bahkan gak ngerti luka yang gw sembunyiin.
Capek jadi versi “aman” dari diri sendiri, cuma biar gak ditolak.
Dan yang paling capek—berperang sama diri sendiri setiap hari.
Lucunya, di luar sana gw keliatan “baik-baik aja.”
Bisa bercanda.
Bisa ngobrol.
Bisa jadi orang yang orang lain kira kuat.
Padahal kenyataannya, gw cuma pintar menyembunyikan retak.
gw iri sama orang-orang yang bisa jadi diri sendiri tanpa mikir dua kali.
Yang gak harus ngedit setiap kata sebelum ngomong.
Yang gak takut kalau suatu hari semua orang bakal sadar kalau mereka sebenarnya gak layak dicintai.
Karena gw?
gw hidup dengan ketakutan itu.
Setiap hari.
Tapi mungkin…
mungkin gw bukan satu-satunya.
Mungkin ada banyak orang di luar sana yang juga ngerasa asing di tubuhnya sendiri.
Yang juga lagi pelan-pelan belajar berdamai sama versi dirinya yang paling mereka benci.
Dan kalau itu benar—
mungkin kita gak benar-benar sendirian.
Cuma…
kita semua terlalu sibuk menyembunyikan luka, sampai lupa kalau kita sebenarnya lagi sama-sama berdarah.
0 komentar:
Posting Komentar