Sabtu, 20 Januari 2018

Sampai Surabaya.

01.00 WIB akhirnya kereta yang gue tumpangi telah sampai di Surabaya
gue langsung menelfon Mas Ferri untuk menjemput gue distasiun, Mas Ferri ini adalah seseorang yang menjaga rumah gue di Surabaya.

"Halo Mas, aku wis teko ndek stasiun iki" (saya sudah sampai di stasiun ini)

"Oh, yo sek yo by. entenono ning pintu utara" (Oh bentar ya By, tungguin di pintu utara) jawab Mas Ferri

"Iyo, Mas" lalu gue menutup telfon nya.

Sembari menunggu mas Ferri datang, gue melihat-lihat sekitar. ada sedikit rasa rindu kala gue menginjakkan kaki di kota ini lagi, mulai dari tukang Soto yang masih buka hingga larut, bapak-bapak yang main karambol, anak muda yang pada nongkrong disebuah warkop. gue melihat ke arah mereka, seperti tanpa beban mereka menjalani kehidupan nya.

gue kembali teringat dengan apa yang ada di Email gue di siang hari tadi.
dimana Jesseh menjadi sangat benci kepada gue.

"Gua juga benci banget sama lu, gausah lu cari gua lagi"

Gue berpikir, mungkin ini hanya sementara, mungkin beberapa minggu atau bulan dia akan kembali lagi seperti semula.. seketika gue menjadi tenang, tapi gimana jika ini bukan sementara? gimana jika dia benar-benar menjadi sangat membenci gue? apa yang harus gue lakuin supaya dia mau memaafkan gue? sedangkan dia sudah memblock semua sosial media gue. Jess, jika lo membaca ini. tolong maafin gue ya, dan unblock social media gue, gue ingin berbincang banyak. ga harus sekarang kok, tapi jika lo sudah tenang, dan jika lo berkenan tolong unblock ya :)

tiba-tiba mas Ferri datang membuyarkan lamunan gue, lamunan gue tentang Jesseh.

"By!! Ayo ki munggah'o. Awakmu tambah gede wae yo saiki by" (By ayo cepet naik, badanmu sudah bertambah besar aja ya sekarang) Mas Ferri memanggil gue, dan itu membuyarkan lamunan gue.

"Oh, iyo mas sek, tak lebokne tas ku ndek bagasi" (iya mas, sebentar tak masukin tas ke bagasi dulu) jawab gue, lalu membuka bagasi mobil yang dibawa mas Ferri.

lalu gue memasuki mobil yang dibawa oleh mas Ferri menuju kerumah gue. didalam mobil tersebut kami berbincang-bincang banyak hal.

"Wah gaya saiki kon, wes nduwe mobil" (Wah gaya sekarang kamu, sudah memiliki mobil) gue baru menyadari kalo mas Ferri ini memiliki sebuah mobil, yah tapi ternyata dugaan gue salah.

"Joh, duk mobil ki iki by, mobile siska, eleng siska po ra kon?" (bukan mobilku by, mobilnya siska. inget siska ga?) jawab mas Ferri.

Sejenak gue berfikir, siska.. siska siapa? gue memaksa otak gue yang lelet ini berpikir untuk menemukan nama Siska, siapa itu Siska?

"Siska sopo mas?" tanya gue kembali ke mas Ferri

"Kuwi loh by, Siska koncomu cilik mbiyen, anak'e pak Har. moso lali kon?" (ituloh by, Siska temen kecilmu, anaknya pak Har. masa lupa?) pungkas mas Ferri

"OHHH, adik'e bebek? seilengku de'e kuliah ndek unbra mas, neng malang kono, kok saiki ndek omah?" (Oh adiknya bebek? seingatku dia kuliah di malang, kok sekarang dirumah?) gue bertanya heran kepada mas Ferri. karena kabar terakhir yang gue dapat sekitar 2 atau 3tahun lalu, Siska itu kuliah di UNBRA Malang.

Siska adalah teman masa kecil gue dan Akbar, walaupun dia adalah seorang perempuan. tapi dia bergaul dengan laki-laki seperti gue dan Akbar, masa kecil kami dulu sering bersama. bermain PS1, yah... kami sering memainkan game Dragon Ball, dan yah bisa ditebak. Siska selalu unggul daripada kami berdua. entah, kenapa gue menjadi tersenyum sendiri ketika ingat masa-masa itu. masa-masa dimana kami hanya memikirkan tentang bermain dari pagi sampai sore. dimana beban hidup terberat adalah, ocehan orang tua kami, kala itu masih ada sosok ibu yang menemani gue.. ah gue jadi sedih jika ingat-ingat masa itu.. rasanya sangat ingin kembali... Mom, wherever u'r now, I really miss u :)

"Iyo by, saiki libur de'e maka'e muleh. wes enek seminggu ndek kene." (iya by, dia libur kuliahnya sekarang, udah ada semingguan disini) pungkas mas Ferri

"Oh ngono to" (Oh gitu toh) jawab gue

lalu, tidak terasa gue tertidur. karena jarak dari stasiun kerumah gue lumayan jauh. gue tertidur didalam bayang-bayang gue terhadap kerinduan paling mendalam kepada 2sosok wanita yang seharusnya gue tidak boleh kasar terhadap mereka. gue tau, sesosok ibu pasti akan mencintai anaknya, no matter what, dia pasti punya alasan lain untuk pergi.. yah mungkin kala itu gue terlalu kecil untuk mengerti apa alasan itu, tapi suatu saat gue akan mengerti.. mungkin, someday... dan juga Jesseh, pasti mempunyai alasan lain untuk memilih pria lain, mungkin.. dan bodohnya gue tidak bertanya alasan dia, gue hanya menyalahkan dia.. yah, sekarang gue menyesal. tapi kelak.. entah kapan, yang pasti gue akan berbaikan dengan Jesseh, dan gue akan menagih janji dia, janji untuk menemani gue mencari ibu gue.. entah kapan, entah berapa lama lagi... dan tiba-tiba gue tertidur.



Entah berapa lama gue tertidur, tiba-tiba kami sudah sampai dirumah gue, Ahhhh home sweet home.
pertanyaan yang ada didalam pikiran gue "kira-kira gue betah ga ya?"
gue disambut oleh Mak kas dan Mas Yerri, Mak Kas membimbing gue masuk ke dalam rumah, sementara Mas Yerri membantu mas Ferri untuk menurunkan barang-barang bawaan gue.

Mak Kas adalah seorang penjual angkringan disebelah rumah gue, dan dia sekeluarga yang dipercaya Akbar sekeluarga untuk menjaga rumah, dari mulai menyapu dan menyalakan lampu. sementara Yerri adalah anak dari mak Kas dan adik dari Ferri, kenapa gue memanggil beliau mak Kas? karena waktu gue kecil, dia yang mengurusi gue, ketika ibu gue sibuk bekerja.. jadi gue terbiasa dengan dia, dan memanggilnya dengan sebutan mak Kas, atau mamak Kas, dialah sosok pengganti ibu gue, ya.. penjual angkringan itulah yang memberi kasih sayang seorang ibu, ketika ibu gue sibuk bekerja.

"Le, koe piye kabare? perjalanan'e piye le? kesel opo ra?" (Tole, gimana kabarmu? perjalannya gimana? melelahkan?) Mak Kas memeluk gue sambil terus bertanya

"Iyo mak Kas, lumayan capek" gue menjawabnya dengan bahasa indonesia, karena bahasa alus dari jawa gue udah lupa, gue sekedar ingat bahasa kasarnya aja.

"Gelem mangan le? rujak cingur arep yo?" (Mau makan le? rujak cingur mau ya?) tetiba mak Kas pulang dan membuatkan gue Rujak Cingur, ya.. malam-malam Jam 02.00 gue harus makan rujak cingur. tapi gpp lah, gue juga kebetulan lapar. sangat-sangat lapar.

dan gue lalu membaringkan badan gue di sofa, dan sejenak gue menikmati aroma rumah ini yang sudah sangat lama gue rindukan...

Tidak butuh waktu lama, rujak cingur dan Es dari mak Kas dateng, wait what? malem-malem gue harus makan makanan pedas dicampur es yang dingin? ah mungkin mak kas berpikir orang jakarta suka dengan makanan yang dingin-dingin.

"iki le, ndang mangan terus turuo" (ini le, cepet makan terus istirahat)

dan ya.. seperti inilah bentuk makanan itu



Feels old yet?

Mas Ferri lalu masuk ke dalam kamar gue untuk menaruh tas-tas gue kedalam kamar, lalu tak lama setelah itu mereka pamit untuk pulang dan membiarkan gue beristirahat..

"SIAL INI RASANYA MENGINGATKAN GUE KEPADA KENANGAN-KENANGAN MASA KECIL GUE" teriak gue dalam hati.

Rujak cingur dan es ini telah habis gue santap, lalu gue pun beranjak ke kamar mandi untuk mandi, dan setelah itu tidur..
betapa rapi nya kamar ini, sprei yang baru dan tidak ada jaring laba-laba terlihat, kenapa mereka memperlakukan gue dengan sangat special? dan sebelum gue tertidur, gue kepikiran apakah Jesseh juga merasakan apa yang gue rasakan sekarang? karena gue sangat rindu dengan nya... Hahaha

PS: Hai Jess, aku udah di Surabaya sekarang. kalau kamu memaafkan aku, tolong balas emailku ya!
Share:

0 komentar:

Posting Komentar